Masyarakat Adat Hiang Peringati Festival Pangan Sedunia, Tampilkan Ragam Seni dan Pangan Lokal
29 Oct 2025
Masyarakat Adat Hiang Peringati Festival Pangan Sedunia, Tampilkan Ragam Seni dan Pangan Lokal
Kerinci, Jambi — Dalam rangka memperingati World Food Day atau Festival Pangan Sedunia, Masyarakat Adat Nenek Limo Hiang Tinggi Nenek Empat Betung Kuning menggelar perayaan budaya Festival Peduli Pangan Lokal Hiang Kerinci 2025 mengusung tema “Menguatkan Kedaulatan Pangan, Merawat Kearifan Lokal”.
Kegiatan
festival ini berlangsung pada 25–26 Oktober 2025, hari pertama bertempat di
Gedung Bersama Desa Hiang Karya dan hari kedua bertempat di Taman Tujuh Desa
Hiang Tinggi, Kecamatan Sitinjau Laut Kabupaten Kerinci.
Festival
ini menampilkan beragam kegiatan seni dan pangan lokal, seperti tari-tarian dan
musik lokal Hiang (Sike Rabana
Hadaratunada, Sike Rabana Azkal Adzkia, Tari Rangguk, Tari Asaek dan
Tari Suluh Bindang) yang dibawakan oleh anak-anak sekolah,
remaja dan orang tua pegiat seni. Selain itu kegiatan ini juga mengadakan lomba
masakan kuliner lokal, serta pameran hasil pertanian masyarakat setempat. Acara
tersebut menjadi wadah bagi masyarakat adat untuk memperkenalkan kearifan lokal
sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis tradisi.
“Kegiatan
ini bukan sekadar pesta rakyat, tapi juga ajang refleksi pentingnya menjaga
pangan lokal dan tradisi leluhur, kami Masyarakat adat Hiang memiliki beragam
masakan lokal, kesenian lokal yang hingga saat ini masih kami lestarikan” ujar
Depati Atur Bumi. Ia menambahkan, pelestarian pangan
tradisional menjadi kunci keberlanjutan budaya dan ekonomi masyarakat desa.
Melalui
Festival Peduli Pangan Lokal Haing Kerinci 2025, Masyarakat Adat Hiang
berharap semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya serta pangan lokal
terus tumbuh di tengah masyarakat.
Atas nama masyarakat adat Nenek Limo Hiang Tinggi Nenek
Empat Betung Kuning, Depati Atur Bumi mengucapkan terimakasih kepada pihak yang
telah mendukung terselenggaranya kegatan Festival Pangan lokal Hiang Kerinci
ini, khususnya kepada Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan kepada Wahana Mitra Mandiri, kami
berharap semoga kegiatan seperti ini kedepannya dapat didukung dan
dikembangkan.
Menurut Mustaem, Manager Community Development Wahana Mitra Mandiri, keterlibatan
masyarakat adat dalam menjaga dan mengembangkan sumber pangan tradisional
merupakan wujud nyata praktik pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal.
“Festival ini bukan hanya
tentang mengenang tradisi, tetapi tentang menghidupkan kembali nilai-nilai
kemandirian dan keberlanjutan yang sudah lama dijalankan masyarakat adat.
Masyarakat Hiang telah memberi contoh bahwa menjaga hutan dan mengolah pangan lokal
dapat berjalan beriringan,” ujar Mustaem.
80 Viewers