Menjemput Fajar Baru: Mengakhiri Adiksi Fosil Demi Kedaulatan Energi

02 Apr 2026

By admin

23 Viewers

Menjemput Fajar Baru: Mengakhiri Adiksi Fosil Demi Kedaulatan Energi

Oleh: Wahana Mitra Mandiri (WMM)

Dunia hari ini sedang berdiri di persimpangan jalan yang menentukan. Di satu sisi, kita menyaksikan kegagalan sistemik dari ketergantungan kronis pada bahan bakar fosil. Di sisi lain, alam memberikan sinyal peringatan yang tak lagi bisa diabaikan melalui berbagai fenomena ekstrem. Wahana Mitra Mandiri memandang, krisis energi saat ini bukan sekadar urusan naik-turunnya harga minyak dunia, melainkan alarm keras bagi masa depan lingkungan hidup dan keadilan sosial, khususnya di Provinsi Jambi.

Paradox Kekayaan Alam dan Krisis yang Mengintai

Provinsi Jambi adalah salah satu lumbung energi fosil, terutama batu bara. Namun, ironi besar terjadi: sementara emas hitam dikeruk dari perut bumi kita, masyarakat lokal justru sering kali menjadi pihak pertama yang menanggung dampak lingkungannya. Hutan rakyat yang hilang, rusaknya bentang alam bekas tambang, hingga polusi udara dari hilir mudik angkutan batu bara adalah harga mahal yang harus dibayar demi energi yang tidak berkelanjutan.

Fenomena "Triple Planetary Crisis"—perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati—kini bukan lagi sekadar teori di jurnal ilmiah. Warga Jambi sudah merasakannya melalui pola cuaca yang tak menentu, banjir yang kian sering merendam pemukiman, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu oleh anomali iklim global. Semua ini berakar pada emisi karbon dari pembakaran energi fosil yang tak terkendali.

Energi Terbarukan: Bukan Pilihan, Tapi Keharusan

Krisis energi global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik membuktikan bahwa bahan bakar fosil adalah komoditas yang rentan dan rapuh. Bergantung padanya berarti membiarkan kedaulatan energi kita disetir oleh pasar internasional yang volatil.

Sudah saatnya kita beralih ke energi terbarukan (ET). Jambi memiliki potensi luar biasa yang selama ini seolah dianaktirikan. Kita memiliki potensi mikro-hidro di wilayah barat, potensi tenaga surya yang melimpah, hingga biomassa dari limbah perkebunan yang sebenarnya bisa diolah menjadi sumber energi kerakyatan.


Bagi WMM, transisi energi bukan sekadar mengganti mesin berbahan bakar diesel dengan panel surya. Transisi ini haruslah sebuah "Transisi Energi yang Adil" (Just Energy Transition). Artinya:

Desentralisasi Energi: Energi harus dihasilkan dan dikelola sedekat mungkin dengan masyarakat, sehingga akses listrik tidak lagi dimonopoli oleh jaringan raksasa yang rentan mati lampu.

Pemulihan Ekologis: Transisi energi harus sejalan dengan pemulihan lahan-lahan bekas tambang di Jambi agar kembali berfungsi secara ekologis.

Keadilan Ekonomi: Masyarakat lokal jangan hanya menjadi penonton, tetapi harus dilibatkan sebagai pemegang saham atau pengelola dalam proyek-proyek energi bersih skala kecil.

 

 

Seruan Untuk Bertindak

Wahana Mitra Mandiri mendesak pemerintah daerah dan pusat untuk berani mengambil langkah radikal. Kita tidak bisa lagi memuja pertumbuhan ekonomi yang disokong oleh kerusakan lingkungan. Investasi harus segera dialihkan dari industri ekstraktif menuju hilirisasi energi bersih yang berbasis komunitas.

Fenomena krisis iklim yang kita hadapi sekarang adalah bukti bahwa alam sudah mencapai batasnya. Jika kita terus memaksakan diri membakar masa depan demi kenyamanan sesaat dari fosil, maka kita sedang mewariskan kehancuran bagi generasi mendatang di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini.

Matahari masih terbit dengan energi yang sama setiap pagi di Jambi. Angin masih berembus, dan air sungai masih mengalir. Kekuatan itu ada di sekitar kita. Pertanyaannya sekarang: apakah kita punya keberanian politik untuk melepaskan ketergantungan pada fosil dan menjemput fajar baru energi bersih?

Waktunya bukan lagi nanti, tapi sekarang. Demi Jambi yang hijau, mandiri, dan berdaulat.

 

Wahana Mitra Mandiri (WMM)

Mengabdi untuk Lingkungan, Berdaya bersama Masyarakat.