Menjemput Fajar Baru: Mengakhiri Adiksi Fosil Demi Kedaulatan Energi
02 Apr 2026
Menjemput Fajar Baru: Mengakhiri Adiksi Fosil Demi Kedaulatan Energi
Oleh: Wahana Mitra Mandiri (WMM)
Dunia hari ini sedang berdiri di
persimpangan jalan yang menentukan. Di satu sisi, kita menyaksikan kegagalan
sistemik dari ketergantungan kronis pada bahan bakar fosil. Di sisi lain, alam
memberikan sinyal peringatan yang tak lagi bisa diabaikan melalui berbagai
fenomena ekstrem. Wahana Mitra Mandiri memandang, krisis energi saat ini bukan
sekadar urusan naik-turunnya harga minyak dunia, melainkan alarm keras bagi
masa depan lingkungan hidup dan keadilan sosial, khususnya di Provinsi Jambi.
Paradox Kekayaan Alam dan
Krisis yang Mengintai
Provinsi Jambi adalah salah satu
lumbung energi fosil, terutama batu bara. Namun, ironi besar terjadi: sementara
emas hitam dikeruk dari perut bumi kita, masyarakat lokal justru sering kali
menjadi pihak pertama yang menanggung dampak lingkungannya. Hutan rakyat yang
hilang, rusaknya bentang alam bekas tambang, hingga polusi udara dari hilir
mudik angkutan batu bara adalah harga mahal yang harus dibayar demi energi yang
tidak berkelanjutan.
Fenomena "Triple Planetary
Crisis"—perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati—kini
bukan lagi sekadar teori di jurnal ilmiah. Warga Jambi sudah merasakannya
melalui pola cuaca yang tak menentu, banjir yang kian sering merendam
pemukiman, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu oleh
anomali iklim global. Semua ini berakar pada emisi karbon dari pembakaran
energi fosil yang tak terkendali.
Energi Terbarukan: Bukan
Pilihan, Tapi Keharusan
Krisis energi global yang dipicu
oleh ketegangan geopolitik membuktikan bahwa bahan bakar fosil adalah komoditas
yang rentan dan rapuh. Bergantung padanya berarti membiarkan kedaulatan energi
kita disetir oleh pasar internasional yang volatil.
Sudah saatnya kita beralih ke
energi terbarukan (ET). Jambi memiliki potensi luar biasa yang selama ini
seolah dianaktirikan. Kita memiliki potensi mikro-hidro di wilayah barat,
potensi tenaga surya yang melimpah, hingga biomassa dari limbah perkebunan yang
sebenarnya bisa diolah menjadi sumber energi kerakyatan.
Bagi WMM, transisi energi bukan
sekadar mengganti mesin berbahan bakar diesel dengan panel surya. Transisi ini
haruslah sebuah "Transisi Energi yang Adil" (Just Energy
Transition). Artinya:
Desentralisasi Energi: Energi harus dihasilkan dan dikelola sedekat mungkin dengan masyarakat, sehingga akses listrik tidak lagi dimonopoli oleh jaringan raksasa yang rentan mati lampu.
Pemulihan Ekologis: Transisi energi harus sejalan dengan pemulihan lahan-lahan bekas tambang di Jambi agar kembali berfungsi secara ekologis.
Keadilan Ekonomi: Masyarakat lokal jangan hanya menjadi penonton, tetapi harus dilibatkan sebagai pemegang saham atau pengelola dalam proyek-proyek energi bersih skala kecil.
Seruan Untuk Bertindak
Wahana Mitra Mandiri mendesak
pemerintah daerah dan pusat untuk berani mengambil langkah radikal. Kita tidak
bisa lagi memuja pertumbuhan ekonomi yang disokong oleh kerusakan lingkungan.
Investasi harus segera dialihkan dari industri ekstraktif menuju hilirisasi
energi bersih yang berbasis komunitas.
Fenomena krisis iklim yang kita
hadapi sekarang adalah bukti bahwa alam sudah mencapai batasnya. Jika kita
terus memaksakan diri membakar masa depan demi kenyamanan sesaat dari fosil,
maka kita sedang mewariskan kehancuran bagi generasi mendatang di Bumi Sepucuk
Jambi Sembilan Lurah ini.
Matahari masih terbit dengan
energi yang sama setiap pagi di Jambi. Angin masih berembus, dan air sungai
masih mengalir. Kekuatan itu ada di sekitar kita. Pertanyaannya sekarang:
apakah kita punya keberanian politik untuk melepaskan ketergantungan pada fosil
dan menjemput fajar baru energi bersih?
Waktunya bukan lagi nanti, tapi
sekarang. Demi Jambi yang hijau, mandiri, dan berdaulat.
Wahana Mitra Mandiri (WMM)
Mengabdi untuk Lingkungan,
Berdaya bersama Masyarakat.
23 Viewers